TAFSIR AL-KHAZIN
Nama Mufassir
Nama beliau adalah Abu al-Hasan, 'Aliy bin Muhammad bin Ibrahim
asy-Syîhiy al-Baghdâdiy, asy-Syâfi'iy, seorang Sufi (ahli Tasawuf)
yang lebih dikenal dengan nama al-Khâzin. Lahir tahun 678 H dan
wafat tahun 741 H).
Nama Kitab
Namanya Lubâb at-Ta`wîl Fî Ma'âniy at-Tanzîl
'Aqidahnya
Beliau adalah seorang Mufassir yang banyak melakukan ta`wil (Mu`awwil),
terutama terhadap kebanyakan ayat-ayat mengenai ash-Shifât (sifat-sifat
Allah), dan terkadang menyebutkan pula madzhab Salaf dan Khalaf,
tanpa menguatkan salah satu dari keduanya.
Spesifikasi Umum
Pengarang kitab ini meringkas kitabnya dari tafsir al-Baghawiy,
mengoleksi semua tafsir-tafsir terdahulu dengan menukil atau
meringkasnya. Dia tidak melakukan -sebagaimana dituturkannya sendiri-
"Selain menukil dan meringkas, dengan cara menghindari pembahasan
yang bertele-tele dan panjang membosankan" namun banyak sekali
mengetengahkan wejangan-wejangan dan Raqâ`iq (penyucian diri/sentuhan-sentuhan
kalbu).
Sikapnya Terhadap Hadits dan Sanad
Beliau mengetengahkan hadits-hadits nabawi ketika menafsirkan
ayat-ayat atau menjelaskan hukum-hukumnya tanpa menyebutkan
sanad-sanad (jalur trasmisi) -nya karena dia sudah membuangnya
sebagaimana disebutkannya di dalam mukaddimah kitab, tetapi disertai
penisbahan kepada Mukharrij (periwayat yang mengeluarkan hadits di
dalam kitab yang dikarangnya), pensyarahan Gharîb al-Hadîts (ungkapan
yang asing) dan hal yang berkenaan dengan faedah-faedah. Beliau juga
interes terhadap penyebutan Ghazawât (peperangan) dan tarikhnya.
Sikapnya Terhadap Hukum-Hukum Fiqih
Beliau sangat interes terhadap aspek fiqih dan mengulasnya secara
panjang lebar, khususnya di dalam menyebutkan madzhab-madzhab ulama
dan dalil-dalil mereka namun begitu beliau juga banyak memasukkan di
dalam tafsirnya hal-hal Furû' (cabang-cabang/sub-ordinat) yang
terkadang tidak begitu terkait dengan keahlian seorang Mufassir.
Sikapnya Terhadap Qirâ`ât
Sama seperti Mufassir lainnya, Imam al-Baghawiy, yaitu menyinggung
Qirâ`ât tanpa panjang lebar.
Sikapnya Terhadap Isrâ`îliyyât
Beliau menyebutkan sebagian Isrâ`îliyyât tetapi tidak
mengomentarinya.
Sikapnya Terhadap Sya'ir, Kebahasaan Dan Nahwu
Beliau menghindari perluasan pembahasan tentang I'rab (uraian posisi
kata per-kata) dan Balaghah namun menyebutkan sesuatu yang penting
saja guna menyingkap makna ayat.
(SUMBER: al-Qawl al-Mukhtashar al-Mubîn Fî
Manâhij al-Mufassirîn karya Abu 'Abdillah, Muhammad al-Hamûd an-Najdiy,
Hal.28-29) |